Home » , » Puasa dalam Perspektif Kejawen

Puasa dalam Perspektif Kejawen

Posted by CB Blogger



Masyarakat jawa sering menyebut puasa dengan istilah pasa. Kata poso sendiri konon berasal dari bahasa sansekerta, upa dan wasa. Upa berarti pertalian. Wasa wewenang atau kekuasaan. Itulah sebabnya, berpuasa bagi wong jowo bukan semata-mata ibadah?

Dalam tulisan ini saya tidak membincang masalah puasa ramadhan secara khusus. Namun, puasa atau poso dalam konteks secara umum.  Masyarakat jawa memang kental dengan laku atau lelaku yang memang identik dengan puasa atau poso. Bagi masyarakat jawa, poso adalah bagian dari laku atau lelaku itu sendiri. Misalnya, untuk mendapatkan ilmu, entah yang bersifat kanuragan atau aji jaya kawijayan, puasa merupakan syarat mutlak yang tidak boleh ditinggalkan.

Dalam serat wedhatama, sebuah karya sastra yang konon berisikan rahasia spiritual tingkat tinggi raja-raja Mataram, yang ditulis KGPAA Sri Mangkunegara IV mengisyaratkan hal tersebut. Pada bait pertama pupuh 33, diantaranya ditulis secara jelas, bahwa “Ngelmu iku kalakone kanthi laku” . artinya, ilmu itu baru bermanfaat atau ada manfaatnya bila telah dilaksanakan.

Dalam pandangan “kengelmuan”, laku yang dimaksud dalam ini bias juga berarti proses spiritual. Nah, dalam hal ini poso atau puasa itu sendiri banyak dianggap sebagai bagian dari laku atau lelaku dalam rangka mendapatkan aji jaya kawijayan ataupun kanuragan misalnya.

Dalam laku atau lelaku poso atau puasa itu sendiri dalam tradisi jawa dalam upaya mendapatkan kesaktian kanuragan  dan aji jaya kawijayan itupun banyak sekali ragamnya. Beberapa di antaranya yang sudah cukup di kenal luas antara lain:

Poso mutih. Adalah puasa dengan syarat hanya minum air putih dan nasi putih, dengan syarat dan keteentuan berlaku. Kadang ada yang hanya 3 hari, 7 hari, bahkan ada pula sampai 40 hari. Pasa mutih ini lebih sebagai penempaan atau pembentukan energy baru pada tubuh manusia.

Poso Nglowong. Tidak makan dan tidak minum sama sekali. Tapi untuk menjaga esensa puasa itu sendiri, maka pada waktu sahur dan berbuka diperbolehkan minum air saja. Selain itu diperbolehkan tidur juga namun hanya sebantar.

Poso Ngebleng. Yaitu puasa yang hanya di kamar saja. Tidak boleh terkena matahari maupun menyalakan lampu.

Poso Kungkum. Yaitu puasa dengan jalan berendam di air. Hanya kepala saja yang Nampak. Waktu pelaksanaannya biasanya pada malam-malam tertentu.

Patigeni. Yaitu sebagai penutup dari puasa laku itu sendiri.

Tetapi intinya, puasa  atau poso itu pengendalian hawa nafsu. Setidaknya ada emapt hal yang harus dilakukan. Yang pertama mengurangi tidup. Ini mutlak, karena menurut keyakinan atau kepercayaan merupakan bagian dari laku untuk memancing ilham. Yang kedua adalah menyendiri.  “menyendiri” dalam hal ini dalam arti sepi. Yang ketiga adalah diam. “tidak banyak bicara”. Ini, karena hubungannya perenungan. Kalau banyak bicara tentunya tidak mengahayati. Jadi pemahaman, penghayatan, penjiwaan, pengalaman—ini bagian dari diam yang saya maksud.

Selanjutnya yang ke emapat atau yang terakhir, mengurangi makan.. mengurangi makan ini merupakan bagian dari lara lapa atau laku prihatin. Mengurangi makan ini, kalau istilahnya  ngurang-ngurangi. Dengan cara puasa atau poso seperti diatas.

Ajaran pengendalian hawa nafsu paling efektif adalah dengan cara puasa atau poso. Mengajari hati atau dengan kata lain, pembelajaran hati. Untuk apa pembelajaran hati? Jawabannya adalah biar menjadi cerdas atau peka menangkap isyarah Gusti Allah swt. Untuk bisa seperti itu diperlukan jangan terlalu tidur. Karena apa? Dengan terlalu banyak tidur, seseorang tidak pernah bias menjaga kehormatannya.  Dan untuk mencapainya kita mesti sungguh-sungguh.

Hakekat dari laku poso atau puasa  adalah pebgekangan diri. Ini apa? Ya, karena alam duniawi banyak member godaan. Silau akan kemewahan, apalagi kalau sedang mendapat suka cita yang berlebihan, maka akan kewaspadaan akan berkurang. Manusia akhirnya akan terbelenggu oleh nafsunya. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat dan menguri-uri khasanah warisan leluhur…wassalam

Sumber : Filsafat Kompasiana


0 Comment:

Post a Comment

Ayo Sobat jangan jadi SILENT READER ya, ? bagi dong komentarnya
jika Sobat tidak punya akun silahkan pilih Anonymous...
Dan gunakan kata-kata yang sopan ....