Semangat Embun Pagi

Posted by

Semangat Embun Pagi
(Oleh : Rukyal Aini)

Matahari bersinar terang, langkah Gadis itu tiba-tiba terhenti di pertengahan jalan, entah apa yang dia lihat pandangannya hanya tertuju ke depan, meski panasnya matahari menyengat tubuhnya serta keadaan jalan yang terjal dan rusak namun Gadis itu sedikitpun tidak terlihat merasa lelah .
Keringat kini membasahi wajahnya, setetes demi setetes air keringatnya membasahi seluruh tubuhnya, bulu matanya yang tebal dan lentik, serta alisnya yang indah membuat Gadis itu terlihat semakin cantik. Dengan memakai baju warna putih serta rok berwarna biru dengan di lengkapi dasi serta jilbab warna putih membuat Gadis itu terlihat semakin anggun.
Perlahan demi perlahan langkahnya terhenti, tangannya bergerak dan mengusap wajahnya yang sudah basah karena keringat. Dia nampak kelelahan namun senyum tetap merekah di bibir mungilnya sehingga lesung pipi kirinya semakin terlihat.
Dari sudut jalan langkahnya terhenti, tangannya meraba-raba setiap ujung-unjung rumput yang tumbuh di pinggir jalan itu, dan kini tangannya tertuju pada bunga yang sangat indah dengan warna merah pemberani, kemudian dia bawa bunga itu dan terus berjalan.
‘’Embun……?” , tiba-tiba ada suara yang memanggilnya, langkah Gadis itu terhenti namun dia berusaha mencari arah suara itu lewat pendengarannya, “iya aku disini,” dia menjawab dengan pelan, dari belakang muncul seorang Gadis yang memiliki seragam sama dengannya, yang tidak lain Gadis itu adalah sahabatnya .
‘’Embun kenapa kamu tinggalin aku?” , Gadis itu bertanya dengan nafas- tertahan-tahan. ‘’maafin aku Hida tadi aku kira kamu sudah pulang,”. Gadis yang bernama Embun itu menjawab dengan suara yang sangat lembut dan sopan. Kemudian Gadis itu merangkul tangan temannya dan menuntunnya berjalan.
Kedua Gadis ini memang sangat akrab. Hampir setiap hari mereka pergi sekolah sama-sama, ceritanya mereka bersahabat dan persahabatan itu mereka ukir dalam sebuah pohon yang sangat besar, persahabatan mereka tidak pernah putus dan sudah terjalin sejak mereka masih duduk di bangku SD kelas dua.
Suatu hari kedua Gadis ini berjalan bersama ke sekolah, di pertengahan jalan langkah Embun terhenti, “kenapa kamu berhenti?” , tanya Hida sedikit penasaran, “Hida, aku ingin menaruh tanganku di atas rumput, ” Embun berkata dengan penuh semangat, wajah Hida sedikit mengkerut, hidungnya yang mancung serta matanya yang sipit membuat Gadis itu terlihat semakin ayu.
‘’Tapi buat apa Embun?” Hida bertanya untuk yang kedua kalinya , “aku ingin menyapa embun pagi,” ucap Embun dengan bangga, Hida terlihat bingung dengan sikap temannya, dia mencoba memperhatikan tubuh temannya dari atas sampai bawah, rasa penasaran seperti membalut wajah gadis berjilbab itu.
Kemudian dengan sedikit kewaspadaan, Hida merangkul tangan Embun dan membawanya ke tepi jalan, wajah Embun terlihat semakin cerah, senyum dibibirnya semakin melebar, ditaruhnya tangannnya di atas rumput yang masih basah dibaluti oleh embun pagi, Hida tersenyum nampaknya Gadis itu terlihat sangat bahagia meliht sahabatnya yang selalu semangat meski matanya tak bisa melihat.
‘’Embun apa yang kamu rasakan?” Gadis bermata sipit itu bertanya dengan suara lembut, “aku menemukan semangatku Hida, ” Embun menjwab dengan suara yang lebih lembut. ‘’Memangnya selama ini kamu gak pernah semangat Embun?” Hida kembali bertanya, rupanya Gadis yng memilki hidung mancung dan pintar ini tidak banyak tahu tentang sahabatnya.
Embun hanya terdiam Gadis ini hanya menjawab dengan senyuman, tiba-tiba air mata membanjiri wajah Hida, entah kenapa Gadis ini terlihat sangat sedih sehingga dia tidak bisa menahan air matanya untuk keluar, ditatapnya wajah sahabatnya itu dan kemudian dia memeluknya erat-erat.
“Embun,kenapa kamu berkata seperti ini, apa yang membuatmu berkata seperti ini?” di tengah isak tangisnya Hida mencoba mengulang pertanyaannya kembali. Embun menghela nafas dia tersenyum dn mengusap air mata yang berlinang di wajah sahabatnya itu.
“Hida kenapa kamu menangis?” Embun bertanya dengan sedih. “Embun, kenapa kamu berkata, baru menemukan semangatmu, apa artinya semua itu?” Embun terdiam di raihnya tas berwarna biru yang berada di punggungnya, kemudian selembar kertas berada di genggamnya, “ baca puisi ini Hida, kamu pasti bisa menjawab sendiri pertanyaanmu itu,” Embun berkata dengan sedikit meyakinkan sahabatnya itu.
Dengan penuh rasa penasaran, Hida mencoba membuka lembaran putih yang di berikan oleh sahabatnya yang cantik itu. Perlahan demi perlahan dia mencoba membuka lipatan kertas putih itu sampai kertas itu terbuka dengan utuhnya.
Embun Pagi

Embun..
Kesjukanmu membuatmu bahagia
Hidupku yang seperti ini, itu semua telah menjadi takdir dari yang kuasa
Setiap hari aku berjalan tanpa penglihatan
Kaki ku terus melangkah meski tidak bisa melihat masa depan
Dalam hati kuyakinkan diri bahwa dengan hati aku mampu melihat masa depan
Embun….
Beningmu mengajariku arti kesabarn
Di setiap pagi engkau selalu hadir di tengah rerumputan
Meski orang disekitarmu tak pernah memperdulikanmu, namun engkau tetap setia setiap pagi
Embun…
Aku adalah penggemarmu, yang ingin mengikuti jejakmu
Setiap tanganku menyentuhmu, hatiku tenang, semangatku semakin berkobar layaknya api yang tak bisa padam
Embun…
Salam hangat dariku, aku yakin aku bisa seperti dirimu, karena namaku dan namamu sama
Embun….
Teruslah berada disisiku, karena engkau telah melahirkan semangatku
Karena aku menyadari, Tuhan masih menyayangiku dengan kehadiranmu di setiap pagiku
Salam embun pagi

Seusai membaca tulisan di kertas putih itu, Hida kembali menangis, matanya semakin memerah rupany Gadis bermata sipit itu merasa bersalah kepada sahabatnya, karena selama ini dia tidak tahu bahwa sahabatnya sangat mengagumi embun pagi.
‘’Hid sudah selesai membacanya?” tiba-tiba Embun bertanya. “Ya..! Embun, aku sudah selesai, oh ya ! kapan kamu buat puisi ini?” “kenapa kamu bertanya begitu, puisinya jelek ya atau kata-katanya terlalu norak?” embun berkata dengan penuh penyesalan. “bukan begitu, aku hanya ingin tahu kapan kamu buat puisi ini aja, soalnya kamu gak pernah cerita sama aku,” ujar Hilda sedikit menegaskan.
‘’Puisi itu aku buat waktu kita libur sekolah, waktu itu aku pergi jalan-jalan pagi dan aku taruh tanganku pada embun-embun itu, sejak itulah aku mulai menulis puisi itu,”. Hida terdiam wajahnya terlihat murung, air matanya terus mengalir dan tak bisa berhenti sehingga matanya yang sipit terlihat semakin sipit namun Gadis tiba-tiba tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
‘’Hida, kamu menangis ya?” , tanya Embun sedikit penasaran . ” puisimu menyentuh sekali Embun,” jawab Hida engan bangga. Embun tersenyum lebar sehingga lesung pipinya semakin terlihat mendalam seperti Sumur. “kamu memuji atau mengolok Hid?” Embun sedikit menegaskan. ” Iya, benaran Embun, puisimu menyentuh sekali,” “ya..! terimakasih dah jika memang kamu menyanjung puisiku..!”.
‘’Sejak kapan kamu suka sama embun pagi Embun?” Hida kembali bertanya. “sejak aku masih kecil Hid,” Embun menjawab sambil tersenyum, “ lalu kenapa embun pagi itu bisa membuat kamu semangat, padahal dia hanya sebuah air bening yang akan hilang apabila matahari telah bersinar, terus kenapa semangatmu itu bisa bergantung pada embun pagi?” Embun menghela nafas mendengar pertanyaan sahabatnya.
“Hida, kamu adalah sahabatku, jujur aku juga merasa semangat jika selalu bersamamu, namun embun pagi itu mengajariku arti sebuah kesabaran dan ketegaran mungkin hanya aku yang bisa menyadari itu, karena aku tidak bisa melhat, ” embun langsung merunduk seusai berkata seperti itu. Mendengar jawaban Embun, Hida merasa bersalah karena telah menyinggung hati sahabatnya.
Kedua Gadis itu berpelukan diiringi dengan isak tangis yang semakn mendalam. Wajah keduanya nampak terlihat sedih. Angin yang berhembus kncang perlahan-lahan berhembus pelan seakan-akan ikut dalam suasana kesedihan, Hida menghela nafas nampaknya Gadis itu sudah bisa menguasai kesedihannya. Dengan sedikit ketenangan dihatinya, diambilnya sapu tangan berwarna merah jambu pmberian Ibunya, kemudian dia usapkan air mata sahabatnya itu.
‘’Embun, aku boleh nanya sesuatu gak?” ujar Hida sedikit tegang. “kamu mau nanya apa Hid, silahkan saja,” “apa keinginan yang paling besar dalam hidupmu?” “aku ingin bisa melihat embun pagi, selama ini aku tidak bisa melihat dan aku hanya bisa merasakan kesejukan embun pagi, meski mataku buta namun dengan kesejukan embun pag it aku mampu melihat masa depanku, sehingga semangatku semakin berkobar,” . Mendengar jawaban sahabatnya, Hida tersenyum bangga.
‘’Yakinlah sahabatku, suatu saat kamu pasti bisa melihat embun pagi,” ujar Hida meyakinkan. Kedua Gadis itu pun tersenyum, dalam sekejab air mata yang berlinang di wajah mereka hilang, Hilda menaruh tangannya di atas rumput yang masih dibaluti embun pagi, kini dia terlihat bangga mempunyai seorang sahabat seperti Embun, meski matanya buta namun hatinya bening sebening embun pagi, di peluknya sahabatnya itu. “aku bangga punya sahabat sepertimu Embun,” ujarnya dengan suara lirih.
“Hidupku sebening embun pagi”, kata-kata ini terukir indah di batang pohon persahabatan kedua gadis itu.


Blog, Updated at: 23:03

10 Comment :

Ayo Sobat jangan jadi SILENT READER ya, ? bagi dong komentarnya
jika Sobat tidak punya akun silahkan pilih Anonymous...
Dan gunakan kata-kata yang sopan ....

Search This Blog

Popular Posts